16 Juni 2007

Piala Adipura, Lambang Kebersihan?

Tepat pada Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan penghargaan Adipura kepada Kota Surabaya, selain DKI Jakarta dan Palembang. Piala itu pun diarak keliling kota.


Demikian PIKNet menginformasikan pada edisi 11 Juni 2007. Penghargaan itu bukanlah yang pertama. Tahun lalu Kota Pahlawan juga menerima penghargaan yang sama. Bahkan pada tahun 1990-an Surabaya pernah menerima piala Adipura Kencana karena berhasil mendapatkan piala Adipura selama lima tahun berturut-turut, sebelum pada akhirnya kegiatan itu dibekukan karena krisis yang melanda Indonesia. Akan tetapi, benarkah dengan menerima Adipura untuk kategori Kota Raya ini berarti Surabaya telah bebas dari sampah?

Harus kita akui, Surabaya memang tampak lebih bersinar dalam dua tahun terakhir. Hal itu bisa dilihat dari kondisi jalanan dan sungai yang semakin bersih. Selain itu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya juga menata ulang taman-taman yang tersebar di sepanjang jalan dan berbagai penjuru kota sehingga lebih menyejukkan pandangan.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, juga sering turun sendiri ke lapangan. Bila melihat sampah berserakan di jalan beliau tidak segan-segan membersihkannya sendiri. Bukan hal yang aneh, karena mobilnya selalu terisi perlengkapan kerja sebangsa sapu, sekop, tas sampah, dan sebagainya. Begitu juga kalau melihat taman yang tak terawat, beliau segera mengontak petugas untuk memperbaiki dan merawatnya. Selain itu, alumni SMA Negeri V Surabaya tersebut mengajak warga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungannya, termasuk kebersihan sungai.

Kerja keras beliau yang tak kenal lelah sejak ditunjuk sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya pada tahun 2005, tampak nyata hasilnya. Surabaya semakin bersih, dan seluruh penjuru kota dipenuhi taman-taman yang indah. Volume sampah yang tahun 2004 mencapai 264.000 meter kubik, tahun 2005 turun menjadi 261.000 meter kubik, dan tahun 2006 susut menjadi sekitar 161.000 meter kubik.

Tengoklah Kalimas. Sungai yang membelah Kota Surabaya itu menjadi lebih jernih dengan tidak adanya lagi sampah yang dulunya “bergentayangan” di permukaannya. Bahkan kini sungai tersebut dapat dimanfaatkan sebagai arena olahraga dayung. Sementara beberapa tempat umum seperti stasiun, terminal, dan juga pasar, terasa semakin bersih dengan hilangnya pemandangan dan bau tak sedap yang sebelumnya menjadi ciri khas tempat tersebut.

Akan tetapi dibalik semua itu, salah besar kalau kita mengukur kebersihan Surabaya dari keberhasilannya meraih Adipura. Karena, penilaian untuk Adipura itu hanya mencakup beberapa wilayah saja, belum termasuk wilayah pinggiran kota. Selain itu, Adipura hanya menilai penampilan fisik sebuah kota. Belum termasuk bagaimana kualitas air, udara, maupun lingkungan lainnya.

Dosen teknik lingkungan ITS, Eddy Soedjono, berpendapat, meski Kota Surabaya mengalami penurunan produksi sampah, bukan berarti pencemaran udara dan air juga ikut berkurang. Pak Eddy usul agar Pemkot bekerjasama dengan beberapa ahli demi mengurangi pencemaran air di kota terbesar kedua di Indonesia ini, tidak berhenti pada upaya pengerukan sampah saja.

Di sisi lain, Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya, Togar Arifin Siloban juga menjelaskan, pencemaran air dan udara belum tertangani secara menyeluruh, karena belum masuk dalam prioritas. Sebelumnya beberapa tahun lalu, pernah ada pakar yang menawarkan sistem penyulingan limbah sungai, tetapi hal itu terhenti karena kurangnya dana.

Adipura telah kita raih. Apakah kita berpuas diri begitu saja dengan gelar yang hanya sementara itu? Yang lebih kita harapkan adalah bahwa kebersihan Surabaya itu bukan hanya terletak pada petugas kebersihan yang membersihkan kota tanpa kenal lelah, tetapi juga pada kesadaran kita bersama sebagai warga kota untuk menjaganya. Yuk, bersih-bersih yuk....

referensi:
1. PIKNet edisi 11 Juni 2007, oleh AB8.
2. PIKNet edisi 2 Juni 2007, oleh Agnes Swetta Pandia

4 komentar:

Fajar Oktobriarto mengatakan...

Masih inget sekitar duapuluh lima tahun yang lalu. Ayah saya hampir aja berantem gara gara pengendara mobil yang seenaknya membuang kulit rambutan, ngga tanggung tanggung, sekresek penuh!!!??. Bukannya ayah sok jagoan tapi gara gara itu beliau jadi hampir nubruk bakul soto gara gara menghindar.
Jaman sekarang sudah jauh beda. minimal orang orang sudah pada sungkan kalau mau bikin kotor.

P4ndu_454kura mengatakan...

Beda 'kali ya kalau yang dibuang bener-bener rambutan, walau sekresek penuh? Biar hampir nubruk bakul soto pasti masih bisa ketawa :)

anung mengatakan...

KEBERSIHAN, ini memang kata yang sangat indah tetapi sulit untuk di wujudkan
Terutama untuk memebuat bersih kota sebesar Surabya!
Kendala utamanya say apikir adalah budaya kebersihan masyarakat
yang masih sangat renadah!, Masyarakat masih belum terusik oleh
kotornya lingkungan mereka! Bagaimana menumbuhkan budaya kebersihan ini?

Tentu harus di mulai dengan lingkungan terkecil, diri sendiri dan keluarga. Di Jepang bahkan anak-anak sekolah di lengkapi dengan tempat sampah
di tas mereka masing-masing sehingga sampah akan hanya di buang di tempat sampah di rumah masing-masing.

Sampah juga telah di pisahkan menjadi at least 4 bagian: sampah organik, besi, plastik, dan kertas.
Ternyata kalau sampah sudah di pisahkan dengan benar akan gampang di olah kembali dan itu sebenarnya bukan sampah tetapi akan menjadi bahan baku.
Sampah organik akan di olah menjadi pupuk Kompos,
sedang besi plastik dan kertas akan bisa di olah kembali menjadi berbagai barang baru.

Di jepang juga ada penemuan baru alat untuk mengolah sampah, nama Inggrisnya "Enviro Waste Furnace".
Di mana alat ini bekerja tanpa mengeluarkan polusi, tidak ber asap, tidak berbau dan tidak menyala, karena bekerja secara elektromagnetik.
Lebih lengkapnya bisa di baca di www.envirowastefurnace.com
Dan kalau ada pembaca yang mungkin berminat terhadap alat ini bisa contact saya: anung@balibiz2000.com
(Lho kok malah promosi!!!;) tapi nggak apa itu demi kebersihan kok!)

Well. saya bermimpi Kotaku Surabaya akan menjadi bersih dan hijau sehingga nyaman untuk di tempati,
Tidak seperti sekarang, panas, kotor, dan banyak nyamuk! kalau mungkin team juri adipura datang ke sudut-sudut pinggiran kota
yang kotor dan tidak tidur di hotel yang mana telah di lengkapi dengan ruangan anti nyamuk, mungkin Surabaya
tidak mendapat adipura!

Boleh dong mencontek AA.Gym....Mari kita bersihkan Kota kita mulai dari diri sendiri...Mulai sekarang juga...dan mulai dari yang kecil...

P4ndu_454kura mengatakan...

Di Surabaya juga sudah mulai dilakukan, kok. Salah satu pelopornya adalah H. Sudarno, ST.