15 Juni 2007

Berobat di Puskesmas Balongsari

Berawal kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saat saya klas 1 atau klas 2 SD. Sudah beberapa hari saya demam. Pagi itu, sekitar jam setengah sembilan, selesai memasak dan membersihkan rumah ibu mengajak saya ke Puskesmas Balongsari, Surabaya, yang jaraknya hanya 150 meter dari rumah.

Puskesmas sepi. Cuma ada dua orang di ruang tunggu. Ibu segera ke loket pendaftaran. Tetapi petugas loket menolak. “Sudah tutup, Bu.”

“Hla... Mbak... masak jam segini sudah tutup? Ini kan baru jam setengah sembilan?”

“Iya, tapi pendaftaran sudah ditutup jam delapan tadi.”

“Memangnya pendaftaran buka jam berapa?”

“Jam setengah tujuh....”

“Tapi dokternya masih ada kan Mbak? Tolong po’o Mbak, anakku sudah beberapa hari panas.”

“Dokternya masih ada, tapi sudah nggak melayani Bu, sudah tutup soalnya,” kata petugas itu tanpa perasaan.

Dengan hati geram dan putus asa ibu mengajak saya pulang. Sejak saat itu kami sekeluarga tidak pernah menginjakkan kaki di puskesmas itu lagi.

Minggu lalu, giliran adik saya demam. Sudah tiga hari. Kebetulan ibu perlu bertemu dengan dokter kepala puskesmas. Maka ibu pun sekalian memeriksakan adik di puskesmas.

Puskesmas Balongsari sekarang beda dengan puskesmas waktu saya ke sana dulu (waktu itu hanya puskesmas pembantu). Di sebelah dan di belakangnya sudah ditambah bangunan-bangunan baru, yang diresmikan Walikota Surabaya Bambang D.H. tanggal 15 Agustus 2006. Sekarang semua ruangannya ber-AC, full music lagi. Dokternya tujuh orang, termasuk dokter gigi, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dan dokter anak. Ditambah psikolog, akupunkturis.

Sudah ada kamar obat dan laboratorium, fasilitas rawat inap melahirkan, klinik lansia, bahkan punya unit perawatan paliatif yang bulan depan diresmikan jadi klinik khusus. Memang, sekarang Puskesmas Balongsari sudah jadi salah satu puskesmas percontohan di Surabaya. Sekarang pendaftaran pasien diterima sampai jam 12 siang, bahkan sore hari jam setengah lima sampai jam delapan malam juga melayani pemeriksaan. Puskesmas itu juga sering mengadakan kegiatan sosial di masyarakat seperti pengobatan gratis dan berbagai lomba berhadiah alat-alat kesehatan.

Jadi mahalkah biaya pengobatannya? Ternyata tidak. Tetap hanya Rp 2.500 untuk biaya pelayanan, ditambah biaya obat Rp 2.500. Sayangnya, kualitas layanan dokternya ikut “tidak naik”. Setelah ditanya berapa lama demam dan apa gejala lain, adik saya hanya dilihat tenggorokannya, disuruh timbang badan, diberi resep, dengan pesan kalau panasnya tidak turun tiga hari lagi supaya kembali ke sana untuk periksa darah. Sudah. Tidak ada komunikasi lain, atau pemeriksaan lain (padahal sudah tidak ada pasien lain). Adik saya yang baru klas 3 SD itu komentar, “Lho, kok gak dipriksa?”

Mungkin waktu itu dokternya sudah capek. Atau lapar. Maklum sudah jam setengah duabelas siang.

referensi:
1. PIKNet, edisi 16 Agustus 2006 oleh APA
2. PIKNet, edisi 01 Mei 2006 oleh APA

11 komentar:

Evy., DDS., OMFS mengatakan...

Owww...mudah2an bu dokter nya baca yaa... pelayanan ditingkatkan... dan puskesmas menjadi idola masyarakat...

jurig mengatakan...

peningkatan kualitas suatu hal pada suatu instansi kadang tidak diikuti oleh peningkatan kualitas di hal lainnya ... :)

P4ndu_454kura mengatakan...

@ Evy
Iya nih... Biar nantinya masyarakat bisa lebih tertarik berobat di puskesmas.
@ jurig
Meningkatkan kualitas manusia ternyata lebih sulit daripada meningkatkan kualitas bangunan. :)

Fajar Oktobriarto mengatakan...

Apalah artinya pegawai kecil pada suatu puskesmas.Mantri bukan apalagi dokter. Sudah kerjaan banyak, acapkali mereka sering dikuyo-kuyo saat melakukan kesalahan. Lain dengan dokter, main aman saja, tidak ada garansi dari pekerjaan mereka. Sembuh bayar ngga sembuh ya bayar, mudah banget cari duit. Pegawai kecil, masuk jam 6 pagi, pulang jam 6 sore, gajian habis buat bayar sekolah anak. Nah itu dia jadi stress deh pegawai puskesmas.

P4ndu_454kura mengatakan...

Dokter yang kemarin memang betul-betul tidak mengundang respek (apalagi pada kunjungan berikutnya, adik saya dicuekin sampai dipanggilkan mantri (?) dari ruangan sebelah). Tapi tidak semua dokter begitu kok.

cakmoki mengatakan...

hehehe, saya pernah nulis yg begituan.
hanya tanya-tanya langsung keluar obat tanpa diperiksa, tanpa penjelasan.
Dokter sakti kali, hahaha.
Menyedihkan, padahal di kota besar ya :(

P4ndu_454kura mengatakan...

Jangan-jangan dia setengah dokter dan setengah dukun.
Wakakakak....

Ud mengatakan...

makanya jangan berobat di puskesmas, di surabaya kan banyak pilihan rumah sakit bagus. bahkan kalau berobat di RS bertaraf internasional enggak usah bayar, cukup nggesek kartu kredit :P

P4ndu_454kura mengatakan...

Di Surabaya banyak RS bagus... tapi biayanya juga "bagus" :D

Kartu kredit? Kartu yang selalu dibawa-bawa abang kredit itu ya...

Anonim mengatakan...

KALO SY SGT SALUT & COCOK DGN PELAYANAN D PUSKESMAS BALONGSARI. KRN DGN BIAYA MURAH,PELAYANAN BAGUS TERUS SEMBUH. TERIMA KASIH PUSKESMAS BALONGSARI. MENGENAI STANDARD PELAYANAN DI PUSKESMAS SPT ITU YA SUDAH CUKUP BAGUS. KLO MAU STANDART PELAYANAN YG LEBIH BAGUS YA DI RS INTERNASIONAL, TAPI BIAYA 2500 AKAN HABIS CUMA UTK BIAYA PARKIR DOANG....HE3..

glewor mengatakan...

KALO SY SGT SALUT & COCOK DGN PELAYANAN D PUSKESMAS BALONGSARI. KRN DGN BIAYA MURAH,PELAYANAN BAGUS TERUS SEMBUH. TERIMA KASIH PUSKESMAS BALONGSARI. MENGENAI STANDARD PELAYANAN DI PUSKESMAS SPT ITU YA SUDAH CUKUP BAGUS. KLO MAU STANDART PELAYANAN YG LEBIH BAGUS YA DI RS INTERNASIONAL, TAPI BIAYA 2500 AKAN HABIS CUMA UTK BIAYA PARKIR DOANG....HE3..