15 Juni 2007

Pengorbanan Yang Sia-Sia

Komisi C DPRD Surabaya meminta agar bangunan tua bekas RS Mardi Santoso di Jalan Bubutan segera direnovasi pengembang Buthan Trade Mall, PT Bubutan Megah Indah. Demikian disampaikan Sekretaris Komisi C DPRD Surabaya Agus Sudarsono seusai inspeksi mendadak di lokasi pembangunan Buthan Trade Mall, Rabu (12/7). Buthan Trade Mall akan dibangun di lokasi bekas RS Mardi Santoso. (PIKNet, edisi 14 Juli 2006 oleh APA)


Ini kisah tentang tempat kelahiran saya, dan tempat saya berobat sampai beberapa tahun sesudahnya. Mardi Santosa, sebuah rumah sakit tua peninggalan jaman Belanda yang sekaligus merupakan bangunan cagar budaya kota. Saya masih ingat, arsitektur rumah sakit itu sangat menawan dalam warna-warna pastel yang lembut. Para dokter dan perawat bekerja dengan baik dan murah senyum. Menurut penuturan orang tua-tua, rumah sakit itu merupakan rumah sakit swasta yang menerapkan tarif murah, bahkan tidak jarang membebaskan biaya perawatan pasiennya.

Akan tetapi, semua itu kini hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi yang dapat mengunjunginya untuk berobat. Tidak ada lagi orang yang datang untuk menjenguk kerabatnya yang sakit.

Ya, bangunan bersejarah itu kini telah rata dengan tanah, hanya menyisakan potongan bangunan bagian depan. Rencananya hendak diganti dengan sebuah mal. Tetapi sampai sekarang, lebih dari lima tahun kemudian, belum ada satu bangunan pun yang berdiri di situ. Hanya rumput dan tanaman liar yang memenuhi lahan kosong di pusat kota itu.

Itulah salah satu ironi perkembangan kota Surabaya. Demi citra metropolis, di mana-mana dibangun pusat perdagangan. Di mana-mana dibangun mal. Sampai mengorbankan gedung yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Wali Kota nomor 188.45/ 251/402.1.04/1996, masih berfungsi sebagai rumah sakit pula. Apalagi ternyata mal itu sampai sekarang belum dibangun. Betapa sia-sianya pengorbanan besar itu.

RS Mardi Santosa tidak sendirian. Masih banyak gedung-gedung bersejarah dan cagar budaya lain yang jadi korban pembangunan mal atau pusat perdagangan. RS CBZ (Simpang), yang merupakan rumah sakit pertama di pulau Jawa, sudah lama berubah menjadi Plaza Surabaya. Hotel Sarkies berubah menjadi Plaza Tunjungan IV. Pasar Wonokromo menjadi Darmo Trade Centre. Bahkan penjara Kalisosok pun sebentar lagi akan berubah menjadi mal.

Di mana-mana di seluruh Surabaya kita menemukan berbagai mal atau trade center. Jumlahnya puluhan. Ruko tidak bisa dihitung lagi jumlahnya. Kebun binatang Surabaya yang berfungsi sebagai paru-paru kota sudah lama diincar untuk disulap menjadi mal. Bahkan SMP 3, bekas sekolah saya yang termasuk cagar budaya karena dulunya merupakan markas Tentara Pelajar, juga pernah diincar investor.

Saya tidak mengerti, akan jadi apakah Surabaya ini? Hutan mal? Untuk siapakah mal-mal itu? Saya pikir masyarakat lebih butuh rumah sakit, pasar, sekolah, dan fasilitas umum lain yang lebih merakyat.

3 komentar:

Fajar Oktobriarto mengatakan...

Wah, kalau ngomongin rumah sakit ini banyak hal menarik. sekedar informasi bekas pacar saya lahir dirumah sakit ini 33 tahun silam. rasanya sayang banget deh kalau rumah sakit ini sampai dipugar untuk mall. Bukannya mall yang ada kan kurang dari sekilo, ngapain buat mall mall lagi, kalau bisa buat rumah sakit Mardi Sentosa jadi pusat pengobatan gratis, nah itu baru luar biasa., mall itu mah basi.

P4ndu_454kura mengatakan...

Masih mending kalau bener-bener jadi mal, lha ini dibiarkan mangkrak bertahun-tahun lo....

W Dharmawan mengatakan...

hm...
kebanyakan bangunan cagar budaya di Surabaya seenaknya aja di bongkar dan dibangun dengan mall yang gak jelas (saya selalu berpikir bahwa mall itu fungsi dan keberadaannya gak jelas).
Saya curiga kalo pejabat2 dari pemkot Surabaya bukan orang2 asli Surabaya. jadi mereka gak mempunyai rasa memiliki kota ini.

Saya pernah mendengar cerita dari teman saya yang kerja di travel. Dia waktu itu bonceng pengusaha dan ketika lewat sebuah bangunan tua, pengusaha itu bilang ke temennya, wah di rubuhin di buat mall enak, nih.

huh! emosi aku.

makasih bolehin isi komentar